Selasa, 05 Maret 2013

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENGGANTIAN KELAMIN


TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENGGANTIAN KELAMIN


Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Masailul Fiqh kepada Ibu DRA. Hj. Darmawati sebagai fasilitator






 
                                                                           Disusun Oleh :
                          Andi Munadi
                         Bayu Setiawan
                           Darul Zhulfi

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI KEPENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SAMARINDA 2012/2013



KATA PENGANTAR

       Assalamualaikum. Wr.Wb.
        Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT. atas perkenan-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penggantian Kelamin. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Masailul Fiqih yaitu ibu DRA. Hj. Darmawati yang telah membimbing sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
       Penulis berharap makalah ini mampu memberikan wawasan pengetahuan dan pemahaman bagi para pembaca khususnya bagi teman-teman mahasiswa lainnya dalam memahami masalah-masalah dalam masailul Fhiqiyah.
       Pada akhirnya, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan dan menyempurnakan makalah ini. Dan tak lupa pula penulis  meminta kepada teman-teman untuk memberikan kritik serta dan saran yang membangun bagi penulisan makalah selanjutnya.

Samarinda, 12 September 2012

Penulis
 


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Pada dasarnya Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sabaik-baik mahluk yaitu laki-laki dan perempuan, yang mana keduanya memiliki peran masing-masing dan saling melengkapi. Namun ada sebagian kelompok atau orang yang menyatakan dirinya waria. Pada hakikatnya waria itu sendiri adalah orang yang mempunyai masalah kebingungan tentang jenis kelamin atau yang lazim di sebut juga sebagai transseksualisme ataupun transgender yang merupakan suatu gejala ketidakpuasan karena tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan.
Eksfresinya bisa dalam bentuk dandanan, make up, gaya dan tingkah laku, bahkan sampai kepada operasi penggantian kelamin. Di dalam islam waria di sebut juga dengan Khuntsa. Ibnu Manzhur di dalam kamus Lisan Al Arab menyebutkan bahwa khuntsa adalah orang yang memiliki sekaligus apa yang di miliki oleh laki-laki dan perempuan, dan khuntsa adalah orang yang tidak murni (sempurna) sebagai laki-laki atau perempuan. Berdasarkan pengertian ini maka waria sama dengan khuntsa, hanya  saja ada sebagian orang yang sengaja merubah penampilan mereka untuk berbagai alasan.
Dari pemaparan di atas, maka di dalam makalah ini kami tertarik untuk membahas tentang tinjauan hukum islam terhadap penggantian kelamin, yaitu pengertian waria (khuntsa), pengertian penggantian kelamin, dan tinjauan hukum islam terhadap penggantian kelamin.

B.   Rumusan Masalah
1.     Apa yang di maksud dengan Waria (Khuntsa)
2.     Apa yang di maksud dengan penggantian kelamin
3.     Bagaimana kedudukan hukum islam terhadap penggantian kelamin


















BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Waria (Khuntsa)
Menurut istilah As-Syaid dalam kitab Fiqh As Sunnah mengatakan bahwa : khuntsa adalah orang yang tidak dapat di ketahui secara pasti apakah ia seorang laki-laki atau seorang perempuan, karena ia sekaligus mempunyai alat kelamin laki-laki dan perempuan.
berdasarkan pengertian tersebut dapat di simpulkan bahwa waria ataupun khuntsa adalah manusia yang memang tidak sempurna baik secara fisik ataupun psikologis. Di dalam Al-Qur’an allah telah telah menyebutkan tentang kejadian manusia, yaitu surah Al-Hajj ayat 5 :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى . . .

Artinya :
“Hai Manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka ketahuilah bahwasanya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudia dari setetes mani, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar kami jelaskan kepadamu, dan kami tetapkan (sesudah itu) dalam rahim”.
Sehubungan dalam penafsiran di atas, Dr. H. Ali Akbar menjelaskan penyebab adanya kelainan kelamin itu karena tidak seimbangnya hormon-hormon yang terdapat di dalam tubuh manusia. Walaupun laki-laki menghasilkan kelenjer laki-laki, tetapi juga di dalam tubuhnya terdapat hormone-hormon perempuan. Begitu pula pada perempuan.
Jadi manusia yang tidak ada kelainan dalam kejadiannya sama dengan laki-laki atau perempuan normal dan di sebut مُّخَلَّقَةٍ 
Sedangkan yang memiliki kelainan dan tidak sama dengan laki-laki atau perempuan normal maka ia adalah yang di sebut وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ  
Menurut Fuqaha khuntsa terbagi menjadi dua macam :
1.     Khuntsa Whafid, yaitu khuntsa yang dapat di hukumkan sebagai laki-laki atau perempuan karena jenis kelamin, sifat-sifat dan tingkah lakunya, yaitu sebelum balig dapat di ketahui dengan keluar kencingnya dengan alat kelamin khusus bagi perempuan. Kemudian setelah balig, apa bila tumbuh jenggotnya maka ia di hukumkan laki-laki, dan apa bila ia berpayu dara seperti perempuan, haid, atau hamil maka ia di hukumkan perempuan.
2.     Khuntsa Musykil, yaitu manusia dalam bentuk tubuhnya ada keg   anjilan, tidak dapat di ketahui apakah ia laki-laki atau perempuan, karena tidak ada tanda-randa yang ditunjukkan atau samar-samar.
Tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini, khuntsa musykil dapat diketahui kriterianya melalui ilmu dan peralatan kedokteran.
Secara umum, transeksual dapat diakibatkan faktor bawaan (hormon dan gen) dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan di antaranya pendidikan yang salah pada masa kecil dengan membiarkan anak laki-laki berkembang dalam tingkah laku perempuan, pada masa pubertas dengan homoseksual yang kecewa dan trauma, trauma pergaulan, suami atau istri. Perlu dibedakan penyebab transseksual kejiwaan dan bawaan. Pada kasus transseksual karena keseimbangan hormon yang menyimpang (bawaan), menyeimbangkan kondisi hormonal guna mendekatkan kecenderungan biologis jenis kelamin bisa dilakukan. Mereka yang sebenarnya normal karena tidak memiliki kelainan genetikal maupun hormonal dan memiliki kecenderungan berpenampilan lawan jenis hanya untuk memperturutkan dorongan kejiwaan dan nafsu adalah sesuatu yang menyimpang dan bahkan tidak dibenarkan menurut syariat Islam.
Belakangan ini banyak fenomena orang yang sengaja merubah penampilan menjadi waria kemudian berkeliaran di jalanan untuk mengadu nasib khususnya di dunia perkotaan, bahkan ada di antara mereka yang menodai atribut muslimah dengan ikut memakai kerudung. Selain itu ironisnya, di media pertelevisian kita sepertinya justru ikut menyemarakkan dan mensosialisasikan perilaku kebancian tersebut di berbagai program acara talkshow, parodi maupun humor. Hal itu tentunya akan turut andil memberikan legitimasi dan figur yang dapat ditiru masyarakat untuk mempermainkan jenis kelamin atau bahkan perubahan orientasi dan kelainan seksual.
Dalam hukum Indonesia sendiri belum ada ketentuan yang jelas mengatur mengenai kedudukan masalah transseksual maupun kedudukan para waria. Padahal dengan semakin meningkatnya globalisasi di dunia, masalah-masalah seperti ini semakin sering muncul.
B.   Pengertian Penggantian Kelamin
Dalam dunia kedokteran modern sendiri, dikenal tiga bentuk operasi kelamin yaitu:
1.     Operasi penggantian jenis kelamin, yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki kelamin normal;
2.     Operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki cacat kelamin, seperti alat kelamin yang tidak berlubang atau tidak sempurna;
3.     Operasi pembuangan salah satu dari kelamin ganda, yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki dua organ/jenis kelamin.[1]
Secara garis besar operasi ganti kelamin adalah operasi pembedahan untuk mengubah jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Pengubahan jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan dilakukan dengan memotong penis dan testis, kemudian membentuk kelamin perempuan (vagina) dan membesarkan payudara. Sedang pengubahan jenis kelamin perempuan menjadi laki-laki dilakukan dengan memotong payudara, menutup saluran kelamin perempuan, dan menanamkan organ genital laki-laki (penis). Operasi ini juga disertai pula dengan terapi psikologis dan terapi hormonal.
C.   Kedudukan Hukum Islam Terhadap Penggantian Kelamin
Islam memandang usaha pengobatan atau penyembuhan jasmani merupakan alasan haram menjadi jaiz, misalnya seorang dokter laki-laki yang harus memeriksa pasien seorang wanita yang bukan muhrimnya, yang hukum asalnya adalah haram berubah menjadi jaiz karena kondisi tertentu yaitu karena darurat. Dalam menjawab pertanyaan apakah boleh melakukan operasi penggantian kelamin menurut hukum Islam, bergantung pada dua hal, yaitu :
1.     Apakah operasi itu akan membantu mempertegas identitas kelamin khuntsa itu, sebagai usaha penyembuhan tubuh atau jasmani kearah penyembuhan rohani agar dapat melakukan fungsi sesuai dengan fitrahnya.
2.     Ataukah operasi itu justru membantu seseorang menghilangkan identitas kelaminnya untuk bertasyabuh atau berserupa diri dengan lawan jenisnya, dengan sengaja untuk mengingkari kedudukan hukum Islam, hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya menjadi berlawanan dengan fitrahnya.[2]
Kalau Seandainya jawabannya sesuai dengan kreteria yang pertama maka operasi yang di lakukan itu akan bernilai positif atau di perbolehkan dalam Islam. Tetapi kalau alasan yang di pergunakan masuk ke kreteria yang kedua, yang hanya mengikuti hawa nafsu atau hanya menyerupakan diri kepada lawan jenisnya jelas sudah bisa di katakan tidak di perbolehkan atau haram dalam pandangan Islam.
Di dalam Al-Qur`an Allah SWT Berfirman pada surah An Nisaa ayat 119 :
وَلأُضِلَّنَّهُمْ وَلأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأَنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللّهِ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّن دُونِ اللّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا
Artinya :
“dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar- benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata”.[3]
Yang perlu di garis bawahi pada ayat ini adalah “dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya”. Ayat ini menunjukkan upaya syaitan mengajak manusia untuk melakukan berbagai perbuatan maksiat. Di antaranya mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah). Operasi ganti kelamin termasuk mengubah ciptaan Allah, karena dalam operasi ini terdapat tindakan memotong penis, testis, dan payudara. Maka operasi ganti kelamin bisa di katakana hukumnya haram.
Rasulullah juga menyatakan di dalam hadis riwayat Ibnu Abbas RA bahwa :”Rasulullah SAW telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR Bukhari). Sudah sangat jelas Rasulullah menegaskan tentang larangan perbuatan laki-laki menyerupai perempuan atau perbuatan perempuan yang menyerupai laki-laki.
Masalah seseorang yang ingin mengubah jenis kelaminnya sedangkan ia lahir dalam kondisi normal dan sempurna organ kelaminnya dan bagi perempuan yang dilengkapi dengan rahim dan ovarium, maka pada umumnya tidak dibolehkan atau banyak ditentang dan bahkan diharamkan oleh syariat Islam untuk melakukan operasi kelamin. Ketetapan haram ini sesuai dengan keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional II tahun 1980 tentang Operasi Perubahan/ Penyempurnaan kelamin. Menurut fatwa MUI ini sekalipun diubah jenis kelamin yang semula normal kedudukan hukum jenis kelaminnya sama dengan jenis kelamin semula sebelum diubah. Oleh karena itu kasus ini sebenarnya berakar dari kondisi kesehatan mental yang penanganannya bukan dengan merubah ciptaan Tuhan melainkan melalui pendekatan spiritual dan kejiwaan (spiritual and psychological therapy).
Operasi ganti kelamin juga merupakan dosa besar, yang berdosa bukan hanya orang yang dioperasi, tapi juga semua pihak yang terlibat di dalam operasi itu, baik langsung atau tidak, seperti dokter, para medis, psikiater, atau ahli hukum yang mengesahkan operasi tersebut. Semuanya turut berdosa dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah pada Hari Kiamat kelak, karena mereka telah bertolong menolong dalam berbuat dosa. Padahal Allah SWT berfirman yang artinya : “Dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Al-Maa`idah ayat 2).
Jika operasi kelamin yang dilakukan bersifat perbaikan atau penyempurnaan dan bukan penggantian jenis kelamin, maka pada umumnya itu masih bisa dilakukan atau dibolehkan. Jika kelamin seseorang tidak memiliki lubang yang berfungsi untuk mengeluarkan air seni, maka operasi untuk memperbaiki atau menyempurnakannya dibolehkan bahkan dianjurkan sehingga menjadi kelamin yang normal karena kelainan seperti ini merupakan suatu penyakit yang harus diobati. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi saw.: “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, Karena sesungguhnya Allah tidak mengadakan penyakit kecuali mengadakan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu penyakit ketuaan.” (HR. Ahmad).
Apabila seseorang mempunyai alat kelamin ganda, maka untuk memperjelas dan memfungsikan secara optimal dan definitif salah satu alat kelaminnya, ia boleh melakukan operasi untuk ‘mematikan’ dan menghilangkan salah satu alat kelaminnya. Misalnya, jika seseorang memiliki alat kelamin pria dan wanita, sedangkan pada bagian dalam tubuhnya ia memiliki rahim dan ovarium yang menjadi ciri khas dan spesifikasi utama jenis kelamin wanita, maka ia boleh menghilangkan alat kelamin prianya untuk memfungsikan alat kelamin wanitanya dan dengan demikian mempertegas identitasnya sebagai wanita. Hal ini dianjurkan syariat karena keberadaan zakar yang berbeda dengan keadaan bagian dalamnya bisa mengganggu dan merugikan dirinya sendiri baik dari segi hukum agama karena hak dan kewajibannya sulit ditentukan apakah dikategorikan perempuan atau laki-laki maupun dari segi kehidupan sosialnya. Dibolehkannya operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin. Berdasarkan keumuman dalil yang menganjurkan berobat pada hadis Nabi SAW : ”Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan pula obatnya.” (HR Bukhari, no.5246). pengubahan kelamin pada orang yang memang mempunyai kelamin ganda di perbolehkan karena dalam keadaan darurat atau tidak sempurnanya ketika terlahir ke dunia. Hukum haram bisa saja berubah menjadi mubah apabila dalam keadaan darurat, yaitu apabila mengenai hidup seseorang.








BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan yang telah kami kemukakan di atas dapat di simpulkan bahwa di dalam Islam tidak ada larangan dalam operasi penggantian kelamin, tetapi dengan catatan karena memang ada suatu hal yang mengharuskannya untuk melakukan operasi kelamin seperti orang yang mempunyai kelamin ganda atau terjadi suatu hal yang berhubungan dengan pengobatan fisik, Operasi penggantian jenis kelamin dapat dilakukan dengan catatan untuk memberikan penegasan status kepada subjek yang bersangkutan dalam hal terjadi jenis kelamin ganda. Namun jika hanya untuk menuruti kemauan dan hasrat seseorang, maka sebaiknya tidak dilakukan karena pada dasarnya dengan melakukan hal itu berarti  yang bersangkutan telah menyalahi kodrat yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya.
Masalah seseorang yang ingin mengubah jenis kelaminnya sedangkan ia lahir dalam kondisi normal dan sempurna organ kelaminnya dan bagi perempuan yang dilengkapi dengan rahim dan ovarium, maka pada umumnya tidak dibolehkan atau banyak ditentang dan bahkan diharamkan oleh syariat Islam untuk melakukan operasi kelamin. kasus ini sebenarnya berakar dari kondisi kesehatan mental yang penanganannya bukan dengan merubah ciptaan Tuhan melainkan melalui pendekatan spiritual dan kejiwaan (spiritual and psychological therapy).















DAFTAR PUSTAKA

Tohido Yanggo, Huzaimah. Masail Fiqhiyah Kajian Hukum Islam Kontemporer. Bandung : Angkasa, 2009.










[1]http://asrinalaily.wordpress.com/2010/06/16/kedudukan-pergantian-jenis-kelamin-dalam-hukum-islam/

[2] H. Huzaimah Tohido Yanggo, Masail Fiqhiyah Kajian Hukum Islam Kontemporer, Bandung: Angkasa, 2006, Hal. 201.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar