Selasa, 05 Maret 2013

PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Pendidikan pada intinya adalah proses rekayasa atau rancang bangun kepribadian. Manusia sebagai subjek pendidikan memiliki potensi berubah dan mengubah. Berbagai faktor yang mempengaruhi manusia, baik faktor alamiah mau pun faktor ilmiah, secara disengaja atau tidak, akan menentukan keberadaanya.
Proses berlangsungnya pengaruh itulah yang disebut dengan pendidikan. Konsep dasar dan tujuan pendidikan dalam Islam dilandaskan kepada pola pikir, atau sudut pandang yang islami, yaitu sudut pandang yang berprinsip pada al-Quran dengan pola menurut yang dicontohkan Rasul. Atas dasar itu pendidikan dalam Islam dapat dirumuskan sebagai proses atau upaya untuk menumbuh-kembangkan atau merancang-bangun kepribadian yang qurani. Pemahaman tentang eksistensi alam dan manusia merupakan pangkal tolak dalam memahami wawasan tentang konsep dasar dan tujuan dalam pendidikan. Falsafah tentang alam dan manusia di dalam Islam didasarkan atas asas ketuhanan yang fungsional, dalam arti bahwa Allah adalah Tuhan, di samping sebagai Khaliq , Ia berperan sebagai Rab, yaitu pengatur alam. Keberadaan alam merupakan eksistensi dari Fitrah yaitu kepastian Allah berdasarkan hukum-hukum-Nya.
Maka dari pembahasan di atas kami merasa perlu untuk memaparkan mengenai pendidikan islam kontemporer.

B.   Rumusan Masalah
1.     Apa pengertian pendidikan Islam.
2.     Apa yang menjadi dasar dan tujuan pendidikan Islam Kontemporer.
3.     Apa saja materi pendidikan Islam Kontemporer.





















BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan adalah proses mempersiapkan masa depan anak didik dalam mencapai tujuan hidup secara efektif dan efisien[1]. Sedangkan Pendidikan Islam menurut para tokoh ialah sebagai berikut :
                       Pertama, Ahmadi mendefinisikan Pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yang sesuai dengan norma Islam.
                       Kedua, Syekh Musthafa Al-Ghulayani memaknai pendidikan adalah menanamkan akhlak mulia dalam jiwa murid serta menyiraminya dengan petunjuk dan nasehat, sehingga menjadi kecenderungan jiwa yang membuahkan keutamaan kebaikan serta cinta belajar yang berguna bagi tanah air.
Dalam definisi diatas terlihat jelas bahwa pendidikan Islam itu membimbing anak didik dalam perkembangan dirinya, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama pada anak didik nantinya yang didasarkan pada hukum-hukum islam.[2]
B.   Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam Kontemporer
Perumusan tentang konsep dasar dan tujuan dalam pendidikan, ditentukan oleh falsafah hidup yang melandasi pola pikir atau sudut pandang perumusannya. Sudut pandang manusia pada masyarakat tertentu, besar kemungkinan berbeda dengan sudut pandang yang lain.
Konsep dasar dan tujuan pendidikan dalam Islam dilandaskan kepada pola pikir, atau sudut pandang yang islami, yaitu sudut pandang yang berprinsip pada al-Quran dengan pola menurut yang dicontohkan Rasul Allah.
Atas dasar itu pendidikan dalam Islam dapat dirumuskan sebagai proses atau upaya untuk menumbuh-kembangkan atau merancang-bangun kepribadian yang qurani. Pemahaman tentang eksistensi alam dan manusia merupakan pangkal tolak dalam memahami wawasan tentang konsep dasar dan tujuan dalam pendidikan. Falsafah tentang alam dan manusia di dalam Islam didasarkan atas asas ketuhanan yang fungsional, dalam arti bahwa Allah adalah Tuhan, di samping sebagai Khaliq , Ia berperan sebagai Rab, yaitu pengatur alam. Keberadaan alam merupakan eksistensi dari Fitrah yaitu kepastian Allah berdasarkan hukumhukum-Nya.
Hukum Allah tentang al-kaun, yaitu makhluk selain manusia, terdapat di alam yang terhampar luas yang disebut jagat raya. Tak ada makhluk di jagat raya yang tidak menurut hukum kepastian Allah. Peredaran matahari pada mustaqarnya, begitu pula planet-planet lain seperti bumi, bulan dan bintang, semua beredar pada falaq yang telah ditetapkan oleh Allah penciptanya, sehingga antara satu dengan lainnya tidak saling berbenturan. Manusia adalah makhluk unik dan serba mungkin.
Keunikan manusia karena Allah menjadikannya sebagai khalifah, yaitu makhluk yang diberikan kewenangan memilih acauan yang diajukan kepadanya. Atas pilihan manusialah Allah menetapkan keputusannya.
Nasib mujur atau nasib sial, merupakan konsekuensi dari pilihan manusia masing-masing. Atas dasar itu doktrin jabariah yang mengatakan bahwa Allah berkuasa mutlak terhadap manusia, dalam arti nasib manusia tergantung kepada Allah, tidak sesuai dengan konsep manusia sebagai khalifah. Berdasarkan fitrahnya, manusia itu ibarat lahan kosong yang potensial. Potensi dasar yang dibawa sejak lahir adalah sarana pengetahuan berupa pendengaran, penglihatan, perasaan dan alat-alat indra lainnya. Dengan fitrah yang dibawa sejak lahir itu, manusia berpotensi untuk menerima berbagai pengaruh. Pengaruh itulah yang disebut pengetahuan, dan kan membentuk kesadaran manusia. Akal mempunyai peranan yang penting untuk memberikan ciri khas kemanusiaan, sehingga berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya, Dengan akalnya, manusia mampu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya, baik potensi alamiah maupun potensi ilmiah, sehingga menjadi pengetahuan.
Namun keradaan akal tergantung faktor lain. Pengetahuan manusia yang hanya berdasarkan pada pengamatan indrawi yuang bersudut pandang empiris, akan melahirkan kesadaran dalam hiduopnya dipertuhan oleh kebendaan. Sebaliknya pengetahuan manusia yang hanya dilandasi pengamatan batin yang bersudut pandang intuitif akan melahirkan manusia yang mendambakan hidup bahagia dalam khayalan. Untuk memberikan arahan kepada manusia dalam menentukan pilihannya, Allah memberikan pedoman, yaitu wahyu-Nya yaitu ilmu atau ajaran yang disampaikan melalui para Rasul.
 Al-Quran adalah wahyu yang disampaikan melalui Rasulullah Muhammad, merupakan landasan konsepsional bagi manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan manusia maupun lingkungan alam. Harapan dan kehendak Allah terhadap manusia dikemukakan di dalam wahyu-Nya itu.
Mengikuti kehendak Allah berarti mengikuti hukum-hukum dan tata aturan-Nya yang terdapat di dalam al-Quran. Dengan demikian maka seseorang dikatakan bertuhan Allah manakala ia memerankan al-Quran dalam kehidupannya. Konsep dasar inilah yang membedakan antara konsep Islam dengan konsepteisme. Berdasarkan konsep dasar tersebut, pendidikan dalam Islam, pada hakekatnya merupakan upaya untuk menumbuh-kembangkan atau merancang-bangun kepribadian wahyiah, yaitu kepribadian yang berstruktur pada sudut pandang bahwa Allah adalah Tuhan, al-Quran sebagai pedoman hidup, dan sunnah Rasul sebagai uswah. Kepribadian yang demikian itu, dalam istilah al-Quran disebut dengan iman, dalam arti pandangan dan sikap hidup ilmiah, bukan perilaku alamiah atau batiniah.
Manusia yang berkepribadian qurani adalah insan yang dalam hidupnya memerankan ajaran Allah, yakni al-Quran dengan pola mencontoh Sunnah Rasul. Dengan demikian dasar dalam pendidikan Islam adalah fungsionalisasi nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan manusia. Adapun tujuannya adalah terbinanya manusia yang berkesadaran hidup menurut Allah, sehingga sikap dan perilakunya di alam berpedoman dengan ajaran-Nya, yakni al-Quran sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.



C.   Materi Pendidikan Islam
Materi pendidikan adalah seperangkat bahan yang dijadikan sajian dalam aktivitas pendidikan. Perumusan tentang materi pendidikan didasarkan atas konsep dasar dan tujuan pendidikan.
Terbentuknya kepribadian yang qurani sebagai mana dikemukakan di atas adalah tujuan dalam pendidikan Islam. Dengan demikian rusmusan tetnang materi pendidikan dalam Islam adalah seperangkat bahan yang dijadikan sajian dalam upaya menumbuh-kembangkan kepribadian qurani yaitu manusia yang bertakwa dalam arti patuh terhadap Allah. Untuk menumbuh-kembangkan atau merancang bangunkepribadian tersebut, maka acuan pokok materi pendidikan dalam Isalam, secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga bidang, yaitu :
1.     Sumber daya ilahiyah yaitu wahyu yang mengacu kepada al-Quran sebagai landasan konsepsional dan Sunnah Rasul sebagai landasan operasional
2.     Sumber daya alami, yang mengacu kepada alam, sebagai sanggar budaya
3.     Sumber daya insani, yang mengacu kepada manusia sebagai makhluk budaya.

a.     Landasan Konsepsional
Al-Quran adalah wahyu dalam arti ilmu dari Allah, yang disampaikan kepada manusia melalui Nabi Muhammad, guna dijadikan pedoman dalam menata hidupnya di alam. Kepribadian yang qurani terbentuk seiring dengan penguasaan makna al-Quran.
Objektifitas pemahaman seseorang tentang makna al-Quran akan menentukan obejektifitas keimanannya. Atas dasar itu dalam rangka fungsionalisasi al-Quran, pengenalan bahasa dan makna serta wawasan tentang al-Quran merupakan materi pokok dalam pendidikan Islam. Lambang-lambang yang terdapat di dalam al-Quran secara totalitas mengandung pengertian, sehingga dalam menyuarakannya, baik bunyi huruf, panjang atau pendeknya, intonasinya dan lagu dalam membaca, dan lain-lain yang berkaitan dengan al-Quran, didasarkan atas sudut pandang bahwa al-Quran sebagai suatu ilmu. Membaca al-Quran berarti memindahkan isisnya, sehingga menjadi kesadaran pembacanya. Membaca al-Quran juga berarti menginformasikan suatu ilmu kepada pendengarnya. Sebagai layaknya seorang pengajar dalam menyampaikan materi, menggunakan lagu bahasa yang bervariasi, sesuai dengan variasi bahasanya. Model atau bentuk bahasa seperti kalimat informatif dan instruktif, baik langsung maupun tidak langsung, kalimat sindiran, pengadaian dan lain-lain, merupakan pertimbangan dalam menentukan lagu bahasa.
Pembaca al-Quran yang tidak mengetahui makna ayat yang dibacanya ibarat pengajar membacakan suatu buku, padahal ia sendiri tidak mengerti maksudnya, sehingga nada suara dan lain-lain yang berkaitan dengan tujuan membaca kurang mendapat perhatian. Jika demikian maka apapun isi yang dibaca, lagu bahasa yang dipakai adalah sama. Bayangkan jika kalimat ancaman dan penyesalan disuarakan dengan lagu yang sama. Telah disepakati oleh umat Islam bahwa al-Quran adalah kalam Allah. Kalam artinya ucapan atau bahasa. Kalam Allah berarti bahasa Allah. Karena pada hakikatnya al-Quran adalah bahasa yang dipakai Allah dalam mengemukakan petunjuk-petunjuk-Nya kepada manusia. Tanpa menguasai bahasa al-Quran manusia tidak akan mengetahui petunjuk yang diberikan oleh Allah. Karena itu bahasa al-Quran merupakan materi dalam pendidikan Islam, dengan tujuan peserta didik dapat memahami makna yangterkandung di dalamnya. Bahasa adalah alat makna . Tidak mengenal bahasa tidak akan mengenal makna. Penguasaan bahasa al-Quran merupakan upaya dalam rangka memfungsikan al-Quran sebagai bacaan ilmiah. Desain materi pengajaran bahasa al-Quran minimal meliputi pengenalan lambang bahasa yaitu bentuk huruf dan bunyi huruf, tata bahasa yang meliputi saraf dan nahwu, serta balaghah sastranya.
b.    Sunnah Rasul Sebagai Landasan Operasional
Para rasul adalah figur objektif dalam mengembangkan konsepsi ilahiah. Sunnah mereka, dalam arti sikap dan tingah lakunya adlaah pola kongkret dalam operasionalisasi misi ilahiah yang tepat, dan telah terbukti dalam pentas sejarah. Karena itu dalam upaya menumbuh-kembangkan sumber daya ilahiah di muka bumi, Sunnah para Rasul sampai kapanpun merupakan landasan operasional yang sekaligus menjadi mukmin dalam melakukan aktivitasnya, baik yang berkaitan dengan pembinaan pandangan maupun pembinaan dan penataan sikap. Jika tidak maka eksistensi akurasi nilai-nilai ilahiah akan mandul.     Hadis Rasul pada intinya adalah catatan atau data tentang Sunnah Rasul yang kini telah diabadikan. Sunnah para Rasul sebelum Nabi Muhammad datanya dikemukakan oleh Allah dalam wahyu- Nya. Sedangkan hadis tetang Sunnah Rasulullah Muhammad sebagai oeperasionalisasi al-Quran diketahui melalui periwayatan para sahabatnya, yang kini datanya telah dibukukan dalam kitab-kitab hadis. Penelitian tentang eksistensi data Sunnah Rasul sebelum Nabi Muhammad terletak pada kesahihan penafsiran tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan itu. Sedangkan penelitian tentang Sunnah Rasul Muhammad, disamping penelitian kesahihan tentang maknanya, menuntut pula penelitian kesahihan tentang sanad atau silsilahnya.
c.      Sumber Daya Alami
Manusia dalam hidupnya tidak terlepas dari alam sekitar. ketanggapan dan kesigapan manusia terhadap alam akan membawa manfaat bagi kepentingan kehidupan manusia. Bumi dengan seluruh isinya, baik flora maupun fauna, baik yang hidup di darat maupun di laut, benda-benda alam, baik dalam bentuk padat, cair maupun gas yang terdapat di permukaan maupun di perut bumi, sebagai barang tambang, diciptakan oleh Allah untuk manusia.
 Alam sebagai sumber daya sangat tergantung kepada manusia. Dalam upaya pemanfaatan alam sebagai sumber daya, diperlukan konsentrasi studi bidang kealaman. Pendidikan kealaman yang objektif akan menumbuh-kembangkan daya tarik manusia terhadap alam secara objektif pula. Dengan pengetahuannya yang obejktif tentang kealaman manusia akan mampu beradaptasi dengan alam sekitar, dapat menjinakkan alam yang ganas dan mengganaskan alam yang jinak , sesuai dengan kodrat alami.
telah diutarakan di muka bahwa keberadaan alam selain manusia, diatur berdasarkan hukumkauniah, yang bersifat pasti. Dengan hukum kauniah tersebut obejektivitas tentang alam akan diketahui oelah manusia melalui pendekatan empiris, yaitu melalui pengamatan langasung. Lingkungan pendidikan kealaman secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pengetahuan tentang benda-benda mati yang lazim dikenal dengan fisika, dan pengetahuan tentang makluk hidup yang lazim disebut dengan biologi. Pengetahuan tentang biologis manusia merupakan modal dasar bagi seseorang dalam memperhatikan dirinya. Berbagai unsur yang dibutuhkan, seperti makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal adalah materi pokok dalam pendidikan biologi. Begitu pula pengetahuan tentang hewan dan tumbuhan yang diperlukan oleh manusia. Pengetahuan tentang kesehatan, yang meliputi pertumbuhan, perawatan dan pengembangan organis biologis, merupakan modal bagi manusia dalam memfungsikan dirinya sebagai pemangku amanat Allah di muka bumi.
Dengan menguasai pengetahuan bidang kesehatan, seseorang akan menjadi sigap dan tanggap terhadap gejala-gejala fisiknya, sehingga tidak cepat panik dalam menghadapi gangguan seperti penyakit. Prinsip pokok dalam pendidikan kealaman dalam bidang hewan dan tumbuhan, bahwa setiap yang diperlukan oleh manusia akan habis jika manusia tidak merawat atau memeliharanya. Benda-benda alam baik padat, cair, maupun gas meruopakan sumber daya alam fisik yang tidak terhitung nilainya bagi manusia. Pengetahuan tentang benda-benda padat dengan struktur atomnya; benda gas dengan kandungannya, air dengan berbagai unsurnya, merupakan sumber yang bermanfaat bagi manusia jika manusia mau memanfaatkannya.
Semua yang terhampar di persada dunia dan di angkasa menuntut perhatian manusia yang mau memanfaatkannya. Sebaliknya ketidak pedulian terhadap semuanya itu akan menimbulkan berbagai malapetaka bagi manusia, baik secara langsung, maupun tidak langsung. Ragam alam yang terhampar di persada dunia demikian banyak, tidak mungkin setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjangkau secara menyeluruh . Karena itu dalam kaitannya dengan studi bidang kealaman menuntut spesialisasi.
Perumusan tentang materi pendidikan kealaman didasarkan atas prinsip sesuai dengan kebutuhan. Skala prioritas yang primer dan yang skunder meruopakan asas dalam menentukan kebijakan studi tentang kealaman. Studi kealaman yagn tidak mendasar atas prinsip kebutuhan hanya akan menghabiskan biaya, tenaga dan waktu.
Studi Kealaman yang selama ini dikembangkan di Indonesia kurang mempertimbangkan asas skala kebutuhan. Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya kurikulum tetang materi kealaman yang seragam baik peserta didik yang hidup di lingkungan perkotaan mau pun pedesaan. Padahal, kondisi alam di lingkungan tidak sama. Akibatnya, antara pengetahuan yang dimiliki peserta didik dengan kenyataanalam yang ada di sekitarnya tidak menunjukkan korelasi lembaga-lembaga pendidikan yang secara formal mencantumkan identitas Islam, baik yang dikelolaoleh pemerintah maupun swasta, yang berafiliasi di bawah Departemen Agama maupun Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, atau Departemen lainnya, baik dalam bentuk sekolah maupun pesantren, kurang memperhatikan sektor materi bidang bidang kealaman. Hal semacam ini sudah tentu akanmembawa dampat negatif terhadap umat Islam.




















BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Pendidikan adalah proses mempersiapkan masa depan anak didik dalam mencapai tujuan hidup secara efektif dan efisien. pendidikan Islam ialah usaha membimbing anak didik dalam perkembangan dirinya, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama pada anak didik nantinya yang didasarkan pada hukum-hukum islam.
Konsep dasar dan tujuan pendidikan dalam Islam dilandaskan kepada pola pikir, atau sudut pandang yang islami, yaitu sudut pandang yang berprinsip pada al-Quran dengan pola menurut yang dicontohkan Rasul Allah.  Atas dasar itu pendidikan dalam Islam dapat dirumuskan sebagai proses atau upaya untuk menumbuh-kembangkan atau merancang-bangun kepribadian yang qurani. Pemahaman tentang eksistensi alam dan manusia merupakan pangkal tolak dalam memahami wawasan tentang konsep dasar dan tujuan dalam pendidikan.








DAFTAR PUSTAKA

Gani, Ali Hasmiyati.  Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Quantum Teaching Ciputat Press Group, 2008.
SM, Isma’il.  Strategi Pembelajaran Islam Berbasis PAIKEM : Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangka., Semarang : Rasail, 2008. Cet. I.
bkpp.acehprov.go.id/.../Artikel/Artikel13.../PENDIDIKAN_ISLAM_...
ahdamjad.files.wordpress.com/.../pendidikan-islam-kontemporer



[1] Hasmiyati Gani Ali, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Quantum Teaching Ciputat Press Group, 2008, hlm. 13
[2] Isma’il SM, Strategi Pembelajaran Islam Berbasis PAIKEM : Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, Semarang : Rasail, 2008, Cet. I, hlm. 34-36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar