Selasa, 05 Maret 2013

MAKALAH FUNGSI NIAT DALAM PERBUATAN

PENDAHULUAN

Niat adalah salah satu unsur terpenting dalam setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia.Bahkan dalam setiap perbuatan yang baik dan benar dalam arti ibadah, dan menghadirkan niat hukumnya fardhu bagi setiap pelaksananya.Banyak hadis yang mencantumkan seberapa penting arti menghadirkan niat dalam setiap perbuatan. Niat juga mengandung makna keikhlasan terhadap apa yang akan kita kerjakan.
Niat merupakan syarat diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat karena Allah ta’ala bukan karena yang lain. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.Ikhlas niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.Seorang mu’min akan diberi pahala berdasarkan niatnya. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka akan bernilai ibadah. Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut konsepnya adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.








PEMBAHASAN
Niat menurut istilah bahasa artinya bertujuan, sedangkan menurut syariat ialah bertujuan untuk mengerjakan suatu hal yang di iringi dengan pekerjaan. Hukum niat adalah fardhu dalam semua amal ibadah, tempat niat ada di dalam hati, karena itu tidak cukup dengan hanya ucapan saja sedangkan hatinya lalai dan lupa, seperti yang di tegaskan oleh Hadist, yang artinya :
“sesungguhnya bagi setiap orang hanyalah sesuai dengan apa yang diniatkannya”.
Tiada niat bagi yang lalai dan keliru. Seandainya orang yang berniat melafadzkan (mengucapkan) niatnya, maka hal itu lebih baik baginya karena niat akan bertambah mantap dengan bantuan lisan.[1]
A.    Niat dan Motivasi Beramal
1.      Riwayat Hadist
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِى حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّا بِ يَنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رِيَاحِ بْنِ رَزَ احِ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ كَعْنِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ الْقُرَيْثِىِّ العَدَ وِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أِنَّمَااْلأَ عْمَالُ بِالنِيَاتِ وَأِ نَّمَا لِكُلِّ اْمْرِىءٍِ مَانَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَ سُوْ لِهِ فَهِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْامْرَ أَ ةٌ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ أِلَى مَا هَجْرَ أِلَيْهِ.
(متفق على صحته)
“Amir AL-Mu’min, Abu Hafs Umar bin Al-Khathtab r.a. bin Nufail, bin abdul Uzza, Bin Riyah, bin Abdullah bin Qurd Rajah bin “Adiy Ka’ab bin Luay, bin Galib keturunan Quraisy Al-Adawy, dia berkata bahwa dia mendengar Rasulullah SAW telah bersabda “Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal, bergantung pada niatnya. Dan yang dianggap bagi amal tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa berhijrah (menguasai dari daerah kafir ke daerah Islam) semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasullullah.
2.      Kosa Kata
1.    أَبِيْ حَفْصٍ
:
Bermakna Al-Asad (singa), sedang Abu Hafsh adalah julukan bagi ‘Umar bin Khathab.
2.    إِنَّمَا
:
(hanyalah) menunjukkan makna pengkhususan dan pembatasan yaitu penetapan hukum untuk yang tersebutkan dan peniadaan hukum tersebut dari selainnya.
3.    اْلأَعْمَالُ
:
Yang diinginkan di sini adalah amalan-amalan yang disyariatkan (ibadah).
4.    لنِّيَّاتِا
:
Merupakan jama’ dari kata niyat. Niat secara bahasa adalah maksud dan kehendak
5.    امْرِئٍ
:
Artinya adalah manusia, baik laki-laki maupun perempuan
6.    هِجْرَتُهُ
:
Secara bahasa artinya meninggalkan sesuatu dan berpindah kepada selainnya. Adapun secara istilah yaitu meninggalkan negeri kafir menuju negeri Islam karena takut fitnah dan untuk menegakkan agama. Adapun hijrah dalam hadits ini adalah Hijrah dari Mekkah ke Madinah.
7.    إِلَى اللهِ
:
Maksudnya adalah menuju keridhaan Allah, baik dalam niat atupun tujuan.
8.    لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا
:
Artinya adalah demi tujuan duniawi yang ingin dicapainya.

3.      Penjelasan Hadist
Rasulullah mengeluarkan hadits di atas untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw.Dari Mekah ke Madinah, yang diikuti  oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang laki-laki yang turut juga hijrah. Akan tetapi niatnya  bukan untuk kepentingan  perjuangan Islam, melainkan menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Wanita itu rupanya sudah bertekan akan turut hijrah, sedangkan pada mulanya kali-laki itu memilih tinggal  di Mekah. Ummu qais hanya bersedia di kawini di empat tujuan hijrahnya Rasulullah Saw. Yakni Madinah, sehingga laki-laki itu pun ikut hijrah ke Madinah.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia niat di artikan sebagai maksud tujuan sesuatu perbuatan.Berkenaan dengan niat, sebagian ulama mendefinisikan niat menurut syara’, sebagai berikut:

   اَلِنِّيَةُ هِيَ قَصَدُ فِعْلِ شَىْءٍ مُقْتَرَ نًا بِفِعْلِهِ

Artinya : Niat adalah menyengajakan berbuat sesuatu disertai (berbarengan) dengan perbuatan.
Orang yang berhijrah dengan niat ingin mendapatkan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Sebaliknya kalau seseorang hijrah karena ingin mendapat rida Allah SWT.maka ia akan mendapatkannya, bahkan keuntungan duniapun akan diraihnya.Sebenarnya, hijrah yang  dimaksud pada hadits di atas adalah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena saat itu penduduk Mekah tidak merespon da’ wah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakai Nabi dan umat Islam. Akan tetapi, setelah Islam kuat, hijrah di atas lebih tepat diartikan berpindah dari kemungkaran atau kebatilan kepada hak.Namun demikian.niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala atau tidaknya setiap hijrah, apapun bentuknya.
Para ulama telah sepakat bahwa niat sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah.Niat termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah.Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila dilakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.
Niat dalam arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara' karena memenuhi berbagai syarat dan rukunnya, belum  tentu diterima dan berpahala kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin dikatakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal harus betel-betel ikhlas, hanya mengharapkan rida Allah saja.[2]sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”(Q.S. Al-Bayyinah: 5)

B.     Menjauhi Perbuatan Riya/Syirik Kecil
1.      Riwayat Hadist
Riya’ adalah syirik kecil; demikianlah ungkapan yang dikemukakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، قَالُوْا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّيَوْمَ الْقِيَامَةِ اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمُ الْجَزَاءَ (رواه أحمد)

Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah SAW?”, Beliau menjawab, “Riya.! Dan Allah akan berkata pada hari kiamat, terhadap mereka-meeka yang riya, ‘pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riya’, apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?” (HR. Ahmad)

2.      Kosa Kata

Paling takut (af’al tafdil)
:
أَحْوَفَ
Aku takut (akan)
:
أَخَافُ
Syirik (menyekutukan Allah)
:
اَلثِّرْكُ
Riya (berbuat sesuatu bukan Karena Allah Tetapi karena ada niat selainnya)
:
اَلِرِّ يَاءُ
3.      Penjelasan Hadist
Riya adalah memaksudkan amalan yang dilakukan seseorang guna mendapatkan keridhoan manusia, baik berupa pujian, ketenaran, atau sesuatu yang diinginkannya selain Allah SWT. Dr. Sayid Muhammad Nuh, menggambarkan adanya tiga sebab yang memotori timbulnya riya: Pertama karena ingin mendapatkan pujian dan nama baik di masyarakat. Kedua, kekhawatiran mendapat celaan manusia, dan ketiga, menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain (tamak). Ketiga hal ini didasari dari hadits, yang diriwayatkan Imam Bukhari yaitu :
Dari Abu Musa al-Asyari ra, mengatakan bahwa seorang Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah SAW, seseorang berperang karena kekesatriaaan, seseorang berperang supaya posisinya dilihat oleh orang, dan seseorang berperang karena ingin mendapatkan pujian? Rasulullah SAW menjawab “Barang siapa yang berperang karena ingin menegakkan kalimatullah, maka dia fi sabilillah.” (HR. Bukhari)

Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din, membagi riya menjadi beberapa tingkat, yaitu:
1.      Tingkatan paling berat, yaitu orang yang tujuan setiap ibadahnya hanyalah untuk riya semata-mata dan tidak mengharapkan pahala. Misalnya, seseorang yang melakukan shalat kalau di hadapan orang banyak, sedangkan apabila sendirian dia tidak melaksanakannya, bahkan kadang-kadang shalat tanpa   berwudlu terlebih dulu.
2.      Orang yang beramal dan mengharapkan pahala, tetapi harapannya sangat lemah karena dikalahkan oleh riya. Dia beramal ketika dilihat orang, sedangkan bila sendirian amalnya sangat sedikit. Misalnya seseorang yang memberikan sedekah banyak di hadapan orang, tetapi kalau sendirian ia memberikan sedikit saja sedekahnva.
3.      Niat memperoleh pahala dan riya seimbang. Kalau dalam suatu ibadah hanya terdapat salah satunya saja, misalnya menclapat pahala, tetapi ia tidak bisa riya, ia tidak mau melakukan ibadah. Demikian pula sebalikiiya.Hal itu berarti merusak perbuatan baik, yakni bercarnpurnya pahala dan dosa.
4.      Riya (dilihat orang) hanya pendorong untuk melakukan ibadah, sehingga jika tidak dilihat orang pun, dia tetap melakukan ibadah. Hanya saja ia merasa lebih semangat kalau dilihat orang.
Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda orang riya ada tiga:
1.      Malas beramal kalau sendirian.
2.      Semangat beramal kalau dilihat banyak manusia.
3.      Amalnya bertambah banyak kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela manusia.
Syaqiq bin Ibrahim, yang diikuti oleh Abu Laits Samarqandi, berpendapat bahwa ada tiga perkara yang menjadi benteng amal, yaitu:
1.      Hendaknya mengakui bahwa aural ibadahnya adalah pertolongan Allah SWT., agar penyakit ujub dalam hatinya hilang;
2.      Semata-mata hanya mencari rida Allah SWT. agar hawa nafsunya teratur.
3.      Senantiasa hanya mengharap rida Allah SWT. agar tidak timbal rasa tamak atau riya.[3]

Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menerangkan kerugian bagi  orang-orang yang suka riya dalam beramal. Bahkan, dengan tegas dinyatakan bahwa orang yang riya akan celaka walaupun dia rajin beribadah.Allah SWT. berfirman:
Artinya : “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Qs. Al-Maun: 4-7)
Selain itu, riya pun akan menghapus pahala amal ibadah sebagaimana firman Allah :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah).mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Qs. Al-Baqarah : 264)

4.      Cara Menghindarkan Diri Dari Riya/Syirik Kecil
Para ulama berupaya memberikan berbagai jalan guna menemukan kiat-kiat agar terhindar dari keriyaan serta mampu menghadirkan keikhlasan dalam jiwa. Diantara cara yang mereka tawarkan adalah:
a.       Menghadirkan sikap muraqabatullah, yaitu sikap yang menghayati bahwa Allah senantiasa mengetahui segala gerak-gerik kita hingga yang sekecil-kecilnya, bahkan yang tergores dan terlintas dalam hati sekalipun yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengungkapkan, “..dan sempurnakanlah amal, karena Sang Pengawas (Allah) Maha Melihat.
b.      Seseorang perlu menyadari dan meyakini, bahwa dengan riya, seluruh amalannya akan tidak memiliki arti sama sekali. Amalannya akan hilang sia-sia dan akan musnah. Serta dirinya tidak akan pernah mendapatkan apapun dari usahanya sendiri.
c.       Dirinya pun perlu menyadari, bahwa lambat launpun manusia akan mengetahui apa yang terdapat di balik amalan-amalan baik yang dilakukannya, baik di dunia apalagi di akhirat kelak.
d.      Dirinya juga perlu meyadari pula bahwa dengan riya, seseorang dapat diharamkan dari surga Allah. Dalam hadits digambarkan, bahwa Rasulullah SAW menangis, karena takut umatnya berbuat riya’. Kemudian beliau berkata, “Barang siapa yang belajar ilmu pengetahuan bukan kerena mencari keridhoan Allah tapi karena keinginan duniawi, maka dia tidak akan mencium baunya surga.”
e.       Banyak berdzikir kapada Allah SWT, terutama manakala sedang menjalankan suatu amalan, yang tiba-tiba muncul pula niatan riya. Hal ini sebaiknya segera diterapi dengan dzikir.















PENUTUP
A.    Kesimpulan
Niat berperan penting dalam ajaran Islam, khususnya dalam perbuatan yang berdasarkan perintah sara’, atau menurut sebagian ulama, dalam perbuatan yang mengandung harapan untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT, niat juga akan menentukan nilai, kualitas, serta hasilnya nanti di hadapan Allah SWT.
Para ulama sepakat bahwa niat sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah, niat juga termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah.Tidaklah sah suatu ibadah bila di lakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.
Sedangkan Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT., melainkan bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan – harapan lainnya dari selain Allah.
Sebagaimana telah disinggung dalam bahasa niat, orang yang beribadah dengan riya tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Hal itu karena dalam ibadahnya tidak lagi murni karena Allah melainkan karena makhluk-Nya.Tak heran kalau riya sebagaimana bunyi hadis di atas dikategorikan sebagai syirik kecil.Artinya dia mempercayai Allah SWT. Sebagai Tuhannya, tetapi pengabdiannya tidak utuh kepada-Nya, melainkan kepada Makhluk-Nya.
Dengan kata lain, hakikat amal mereka adalah penipuan belaka. Mereka melakukan ibadah bukan karena menjalankan perintah-Nya, apalagi demi mengharapkan rida-Nya, melainkan untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan itulah di antara perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang munafik.







DAFTAR PUSTAKA

Syafe’i, Rachmat. Al-Hadist Aqidah, Ahklak, Sosial, dan Hukum. Bandung: CV Pustaka Setia, 2003.
Nhasit, Mansyur Ali. Mahkota Pokok-Pokok Hadist Rasulullah SAW. Bandung: CV Sinar Baru, 1993.
Shalih al-‘utsaimin, syaikh Muhammad.Syarah Hadist Arbain. Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2003.
http://tanpahentimencariilmu.blogspot.com/2011/10/tugas-makalah-hadistniatmotivasi_05.html
http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com/2011/03/makalah-hadits-tentang-niat-ikhlas-dan.html




[1] Manshur Ali Nhasit, Mahkota Pokok-Pokok Hadist Rasulullah SAW, (Bandung : CV Sinar Baru, 1993),hlm. 107-108.
[2]Rachmat Syafei, Al-Hadis akidah, akhlak, sosial, hukum,(Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm. 53-57.
[3]Ibid, Hal.62-63

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar