Senin, 07 November 2011

Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan Daerah

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
            Istilah globalisasi diambil dari kata ”global”. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah kontinuitas lingkungan yang terkontruksi sebagai kesatuan utuh. Dunia menjadi sangat transparan seolah tanpa batas administrasi suatu negara. Batas-batas geografis suatu negara menjadi kabur. Globalisasi membuat dunia menjadi transparan akibat perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya sistem informasi.
Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya.
Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992). Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya.


C. RUMUSAN MASALAH
Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan daerah, diantaranya :
1.      Pemahaman terhadap makna dari gelobalisasi dan budaya
2.      Paradigma gelobalisasi terhadap kebudayaan indonesia
3.      Dampak langsung demokrasi terhadap pergeseran budaya di masyarakat
4.      Terjadinya erosi nilai-nilai budaya masyarakat.
5.      Faktor yang mendorong arus gelobalisasi dan pencegahan terhadap dampak negatif gelobalisasi
D. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
1.      Mengetahui pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah
2.      Untuk meningkatkan kesadaran remaja untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri karena kebudayaan merupakan jati diri bangsa.
3.       Untuk depat menciptakan suatu jalan keluar dalam menghadapi persoalan – pesolanan pemerintah ketika arus gelebolisasi.












BAB II
PEMBAHASAN
A.     GLOBALISASI DAN BUDAYA
Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak kata budhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa latin, berasal dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan , menyuburkan. Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Tercipta atau terwujudnya suatu kebudayaan adalah sebagai hasil interaksi antara manusia dengan segala isi alam raya ini, manusia yang telah di lengkapi tuhan dengan akal dan fikirannya menjadikan mereka khalifah di muka bumi dan di berikan kemampuan yang di sebutkan oleh Supartono (dalam Rafael raga Maran, 1999:36) sebagai daya manusia. Manusia memiliki kemampuan daya antara lain akal, intelegensia, dan intuisi, perasaan dan emosi, kemauan, fantasi dan perilaku. Dengan sumber-sumber daya kemampuan manusia tersebut nyatalah manusia menciptakan kebudayaan, ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan, dengan kata lain kebudayaan ada karena ada manusia penciptanya dan manusia dapat hidup di tengah kebudayaan yang di ciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendukungnya.
Manusia merupakan makhluk yang berbudaya, memlalui akalnya manusia dapat mengembangkan kebudayaan. Begitu pula manusia hidup dan tergantung pada kebudayaan sebagai hasil ciptaannya, kebudayaan jug memberikan aturan bagi manusia dalam mengolah lingkungan dengan teknologi hasil ciptaannya. Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat, berbagai macam kekuatan harus di hadapi manusia dan masyarakat seperti kekuatan alam dan kekuatan lain. Selain itu manusia dan masyarakat memerlukan kepuasan baik secara spiritual maupun materiil. Namun pada dasarnya masyarakat senantiasa berubah di semua tingkat kompleksitas internalnya. Di tingkat makro terjadi perubahan ekonomi, politik, dan kultur. Di tingkat mezo terjadi perubahan kelompok, komunitas, dan organisasi dan di tingkat mikro terjadi perubahan interaksi dan prilaku individual. Masyarakat bukan sebuah kesatuan fisik (entity), tetapi seperangkat proses yang saling terkait bertingkat ganda. Masyarakat ada setiap saat dari masa lalu ke masa mendatang, kehadirannya justru melalui fase antara apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Dalam masyarakat kini terkandung pengaruh, bekas, dan jiplakan masa lalu serta bibit dan potensi untuk masa depan, sifat berfrosesnya masyarakat tersirat berarti bahwa fase sebelumnya berhubungan sebab akibat dengan fase kini merupakan persayaratan sebab yang menentukan fase berikutnya.
1.      Konsep Tradisi
Berbicara mengenai tradisisi, hubungan antara masa lalu dan masa kini haruslah lebih dekat, tradisi mencakup kelangsungan masa lalu di masa kini ketimbang sekedar menunjukkan fakta bahwa masa kini berasal dari masa lalu. Kelangsungan masa lalu di masa kini mempunyai dua bentuk : material dan gagasan, objektif dan subjektif. Menurut arti yang lebih lengkap, tradisi adalah keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun benar-benar ada di masa kini, belum di hancurkan, di rusak, atau di lupakan.
Kriteria tradisi dapat lebih di batasi dengan mempersempit cakupannya dalam pengertian tradisi hanya bagian-bagian warisan khusus yang memenuhi syarat saja, yakni yang tetap bertahan hidup di masa kini. Di lihat dari aspek benda material berarti benda material yang menunjukkan dan mengingatkan kaitan khususnya dengan kehidupan masa lalu, bangunan istana, tembok kota abad pertengahan, candi puing-puing kuno serta sejumlah besar peninggalan benda lainnya jelas termasuk kedalam pengertian tradisi. Di lihat dari aspek gagasan (termasuk keyakinan, kepercayaan, simbol, norma, nilai, aturan, dan ideoligi) haruslah yang mempengaruhi pikiran dan perilaku dan yang melukiskan makna khusus atau legitimasi masa lalunya. Gagasan kuno mengenai demokrasi, keadilan, kebebasan dan juga mitos asal-usul kebangsaan, keagungan dan kejayaan negara di masa lalu adalah merupakan contoh tradisi pertama yang muncul dalam pikiran, termasuk pula benda atau gagasan baru yang di yakini berasal dari masa lalu dan di perlakukan dengan khidmat.
Dalam arti sempit tradisi adalah kumpulan benda material dan gagasan yang di beri makna khusus yang berasal dari masa lalu, tradisi pun mengalami perubahan. Tradisi lahir di saat tertentu ketika orang menetapkan fragmen tertentu dari masa lalu sebagai tradisi. Tradisi berubah ketika orang memberikan perhatian khusus pada fragmen tradisi tertentu dan mengabaikan fragmen yang lain, tradisi bertahan dalam jangka waktu tertentu dan mungkin lenyap apabila benda material di buang dan gagasan di tolak atau di lupakan. Tradisi mungkin pula hidup dan muncul kembali setelah lama terpendam. Contohnya, munculnya tradisi etnik dan gagasan nasional di Eropa oleh rezim komunis.
Tradisi mereka membeku selama berada cengkraman rezim komunis yang totaliter itu, terjadi perubahan dan pergeseran sikap aktif terhadao masa lalu. Tradisi lahir melalui dua cara. Cara pertama, muncul dari bawah melalui mekanisme kemunculan secara spontan dan tak di harafkan serta melibatkan rakyat banyak, karena suatu alasan individu tertentu menemukan warisan historis yang menarik. Cara kedua, muncul dari atas melalui mekanisme paksaan. Sesuatu yang di anggap sebagai tradisi di pilih dan di jadikan perhatian umum atau di paksakan oleh individu yang berpengaruh atau berkuasa. Dua jalan kelahiran tradisi itu tidak membedakan kadarnya, perbedaan terdapat antara “tradisi asli”, yakni yang sudah ada di masa lalu dan “tradisi buatan”, yakni murni khayalan atau pemikiran masa lalu.
Tradisi buatan mungkin lahir ketika orang memahami impia masa lalu dan mampu menularkan impiannya itu kepada orang banyak. Rakyat dapat di tarik untuk mengikuti tradisi tertentu yang kemudian memengaruhi seluruh rakyat satu negara atau bahkan dapat mencapai skala global. Demikianlah penyebaran tradisi yang berkaitan dengan agama besar seperti Islam, Kristen, dan Budha. Doktrin politik dan tradisi yang di kembangkannya meliputi: demokrasi liberal, sosialisme, dan konservativisme. Sebaliknya, rakyat mungkin bosan atau kecewa terhadap tertentu sehingga secara bertahap atau tiba-tiba meninggalkannya. Perubahan tradisi juga di sebabkan banyaknya tradisi dan bentrokan antara tradisi yang satu dengan yang lainnya, benturan itu dapat terjadi antara tradisi masyarakat atau antara kultur yang berbeda di dalam masyarakat tertentu. Benturan tradisi antar masyarakat atau kultur berbeda telah di kaji secara luas oleh pakar antropologi sosial, terutama mengacu pada penaklukan kolonial dan juga melalui kontak kultural secara damai antara masyarakat yang sama sekali berbeda. Akibat benturan itu hampir tanpa kecuali tradisi masyarakat pribumi di pengaruhi, di bentuk ulang atau di sapu bersih. Benturan tradisi yang terjadi dalam suatu masyarakat terjadi dengan berbagai bentuk dan yang paling sering terjadi adalah bentrokan tradisi kesukuan dalam masyarakat multi etnik, konflik antara tradisi yang di hormati oleh kelas atau strata yang berlainan, kecurigaan dan kebencian yang di tunjukkan oleh kelas yang kurang mendapat hak istimewa terhadap tradisi elite adalah contoh yang paling nyata. Dalam revolusi sosial, kelas yang kurang beruntung biasanya melakukan tindak kekerasan seperti membakar rumah raja dan yang lainnya. Perbedaan tradisi daerah pun dapat menyulut permusuhan dengan banyaknya perbedaan pendapat. Pada pandangan satu sisi meyakini bahwa tradisi majemuk selalu akan baku hantam, padahal diantara tradisi yang berbeda mungkin pula saling memberikan dukungan. Bila tradisi pribumi cukup kuat atau bila tradisi dari luar tak terlalu di paksakan maka sebagian unsur tradisi dari luar itu akan di serap oleh tradisi pribumi namun apabila tradisi yang berinteraksi itu hampir sama kuat maka akan terjadi percampuran tradisi.
2.      Modernitas
Sosiologi lahir sebagai tanggapan intelektual atas periode historis tertentu. Sosiologi. Sosiologi lahir di abad ke-19 dalam upaya menafsir dan memahami transisi besar yang melanda dunia barat dari masyarakat tradisional ke tatanan sosial modern, urban, industrial, dan demokratis. Bagian terbesar kegiatan riset dan pembentukan teori sosiologi sejak lahirnya telah di pusatkan pada masyarakat modern.
Sosiologi menjadi kesadaran ilmiah tentang modernitas dan prestasi terpentingnya berkaitan dengan pengalaman kejayaan modernitas, bahkan ketika sosiolog melakukan riset keluar batas masyarakat Barat modern itu, mereka memandang masyarakat lain di luar masyarakat barat sebagai primitif, terbelakang, dan pramodern. Mereka pun menganggap bahwa pembebasan masyarakat dari keterbelakangannya hanya akan berhasil bila berupaya menyamai barat (Dunia Pertama). Terlepas dari definisi negatif modernitas yang di pertentangkan dengan tradisionalisme, sudah ada upaya untuk menyajikan gambaran positif dengan menunjukkan ciri-ciri mendasar masyarakat modern. Analisis itu dapat dengan mudah di turunkan derajatnya menjadi sebuah daftar sementara seluruh ciri-ciri masyarakat modern tanpa hierarki yang jelas atau tanpa landasan teoritis. Namun, daftar ciri-itu sangat di perlukan untuk membentuk gambaran yang lebih mendalam dan konkret tentang modernitas ketimbang yang di sediakan oleh konsep yang sangat umum sebelumnya.
Salah satu analisis sistematis tentang modernitas di sajikan oleh krisham kumar (1988). Kumar mengikuti strategi yang di susun model dikotomi tetapi memperkayanya dengan hasil yang di susun empiris yang di himpun dengan berbagai riset sosiologi. Himpunan ciri-ciri modernitas ini berkaitan erat dengan apa yang di anggap sebagai terciptanya konsensus dalam disiplin sosiologi. Dengan mengikuti kumar, mula-mula kita akan menyebut satu persatu ciri-ciri umum modernitas dan kemudian menunjukkan akibatnya dalam kehidupan sosial yang lebih terbatas: ekonomi, politik, stratifikasi, kultur, dan kehidupan sehari-hari. Ciri-ciri modernitas itu adalah sebagai berikut :
a.       Individualisme. John Naisbitt dan Patricia Aburdene (1990) membicarakan “kemenangan individual” sebagai ciri utama era modern. Yang mereka maksud dengan “kemenangan individual” adalah bahwa yang memegang peran sentral dalam masyarakat adalah individu, bukan komunitas, suku, kelompok, atau bangsa. Individu terbebas dari posisi tergantikan, bebas dari tekanan ikatan kelompok, bebas berpindah kelompok yang di inginkannya, bebas memilih keanggotaan sosial yang di inginkannya, bebas menentukan dan bertanggung jawab sendiri atas kesuksesan maupun kegagalan tindakannya sendiri.
b.      Diferensiasi. Ini sangat penting di binding tenaga kerja, dengan muncul sejumlah sepesialisai, penyempitan  definisi pekerjaan dan profesi, akan memerlukan keragaman keterampilan, kecakapan, dan latihan.
c.       Rasionalisme. Artinya berperhitungan. Berfungsinya institusidan organisasi tidak tergantung pada persorangan inilah yang menjadi landasan teori birokrasi dan organisasi birokrasi Weber (dalam arti manajemen yang efisien). Manajemen efisien atau rasional akan dianggap sebagai ciri utama moderenisasi.
d.      Ekonomisme. Seluruh aspek kehidupan sosial didominasi oleh aktivitas ekonomi, tujuan ekonomi, kreterian eknomi, dan prestasi ekonomi. Masyarakat oderen terutama memusatkan perhatian pada produksi, distribusi, dan kosumsi barang atau jasa dan tentu saja uang sebagai alat ukuran umum dan alat tukar. Ekonomisme ini mengesampingkan keasikan pada keluarga dan ikatan kekeluargaan yang mewarnai masyarakat pimitif atau masyarakat agraris.
Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan.
Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya. Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi. Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita.
Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka. Terkait dengan seni dan budaya, Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.
B. GLOBALISASI DALAM KEBUDAYAAN TRADISIONAL DI INDONESIA
Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami proses dipengaruhi dan mempengaruhi. Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah. Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung begitu cepat. Hanya dalam jangka waktu satu generasi banyak negara-negara berkembang telah berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan, padahal di negara-negara maju perubahan demikian berlangsung selama beberapa generasi. Pada hakekatnya bangsa Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh luar. Kemajuan bisa dihasilkan oleh interaksi dengan pihak luar, hal inilah yang terjadi dalam proses globalisasi. Oleh karena itu, globalisasi bukan hanya soal ekonomi namun juga terkait dengan masalah atau isu makna budaya dimana nilai dan makna yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti.
Perubahan karakter masyarakat merupakan hal mencolok yang terjadi, khususnya dengan melemahnya ikatan-ikatan tradisional, pada saat yang sama individu-individu memiliki otonomi yang lebih besar dalam dunia yang semacam ini, minat individual sedang mendapatkan ruang yang lebih luas dalam berekspresi dan juga dalam proses pengambilan keputusan (Goldsmith,1998). Perubahan semacam ini menegaskan suatu peralihan yang mendasar dalam istitusi-institusi social sebagai pengikat individu-individu dan menunjukkan kebutuhan cara-cara dalam mengorganisasikan ke dalam suatu system.
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam berbagai hal, seperti anekaragaman budaya, lingkungan alam, dan wilayah geografisnya. Keanekaragaman masyarakat Indonesia ini dapat dicerminkan pula dalam berbagai ekspresi keseniannya. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan pula bahwa berbagai kelompok masyarakat di Indonesia dapat mengembangkan keseniannya yang sangat khas. Kesenian yang dikembangkannya itu menjadi model-model pengetahuan dalam masyarakat.
C. PERUBAHAN BUDAYA DALAM GLOBALISASI KHUSUSNYA ADAT INTIADAT DI MASYARAKAT
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen (berkelompok) menuju pluralisme(persorangan) nilai dan norma social merupakan salah satu dampak dari adanya globalisasi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui saluran tv kabel yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita.
Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Dan sebagai dampak nyata terhadap arus gelobalisasi tersebut akhirnya memberikan perubahan terhadap adat istiadan bangsa indonesia.
Sebgai contohnya saja ialah hilangnya nilai – nilai kebudayaan di masyarakat di dalam interaksi sosialnya. Sebagaian besar masyarakat kita telah benayak mengadopsi nilai – nilai kebudayaan bangsa asing, sedangkan nilai – nilai budaya bangsa kita sendiri sudah mulai d luakan atau bahkan di tinggalkan. Seperti niali sopan santun, gotong royong, bermusyawarha untuk mencapai suatu mufakat, dan sikap saling menghargai satu sama lainya.
Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran kebudayaan serta tingkah laku dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan adat tradisional kita. Dengan kemajuan teknologi yang super canggih masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kebudayaan Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk perilaku dan kebiasaan etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi.
Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi.
Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi. Di sisi lain, ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat. Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain ketoprak masih ada kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi mutakhir yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap mempertahankan eksistensi dari kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan mengadakan pagelaran wayang kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran musik gamelan tiap satu minggu atau satu bulan sekali yang diadakan di aula Kertarajasa, Museum Nasional.
D. PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP BUDAYA BANGSA
Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia . Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri .
Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, duapuluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah. Saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII). Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya.
Hal lain yang merupakan pengaruh globalisasi adalah dalam pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu budaya bangsa). Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang kedua tunggal dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan kau atau kamu sebagai pertimbangan nilai rasa. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’, bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion .
Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia . Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya internet, turut serta `menyumbang` bagi perubahan cara berpakaian. Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend dilingkungan anak muda. Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan `baik`. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia ) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran.


E.   FAKTOR PENDORONG TIMBULNYA GLOBALISASI KEBUDAYAAN DAN CARA MENGANTISIPASI GLOBALISASI KEBUDAYAAN
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi dari pada perhatian terhadap cultural atau budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’, mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural.
Dalam pengamatan yang lebih sempit dapat kita melihat tingkah laku aparat pemerintah dalam menangani perkembangan kesenian rakyat, di mana banyaknya campur tangan dalam menentukan objek dan berusaha melakukan perubahan agar sesuai dengan tuntutan pembangunan. Dalam kondisi seperti ini arti dari kesenian rakyat itu sendiri menjadi hambar dan tidak ada rasa seninya lagi. Melihat kecenderungan tersebut, aparat pemerintah telah menjadikan para seniman dipandang sebagai objek pembangunan dan diminta untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan simbol-simbol pembangunan. Hal ini tentu saja mengabaikan masalah pemeliharaan dan pengembangan kesenian secara murni, dalam arti benar-benar didukung oleh nilai seni yang mendalam dan bukan sekedar hanya dijadikan model saja dalam pembangunan.
Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat membosankan.
Pemerintah juga di nilai telah melakka pembatasan atas pelestarian kebudayaan – kebudayaan masyarakat. Namun disisi lain pembatasan – pembatasan budaya tersebut juga memiliki nilai positif terhadap sikap moral di masyarakat indonesia. Sebagai contoh bentuk – bentuk kebudayaan yang dianggap kurang baik bagi kehidpan masyarakat seperti judi sambung ayam di bali, kebiasan meminum minuman keras di dalam perayaan – perayaan adat, dan lain – lain di lakukan pemgbatasan bila perlu di hilangkan karena dinilai kebiasaan tersebut dapat menimbulkan suatu persoalan baru yang dapat menyebabkan kerugian baik di masyarakat maupun pemerintah.
 Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dikehendaki terhadap keaslian dan perkembangan yang murni bagi kesenian rakyat tersebut, maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi pemerintah sebagai pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur dalam proses estetikanya. Memang diakui bahwa kesenian rakyat saat ini membutuhkan dana dan bantuan pemerintah sehingga sulit untuk menghindari keterlibatan pemerintah dan bagi para seniman rakyat ini merupakan sesuatu yang sulit pula membuat keputusan sendiri untuk sesuai dengan keaslian (oroginalitas) yang diinginkan para seniman rakyat tersebut.
Oleh karena itu pemerintah harus ‘melakoni’ dengan benar-benar peranannya sebagai pengayom yang melindungi keaslian dan perkembangan secara estetis kesenian rakyat tersebut tanpa harus merubah dan menyesuaikan dengan kebijakan-kebijakan politik. Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang millenium baru seperti saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan. Kita harus beradaptasi dengannya karena banyak manfaat yang bisa diperoleh.
Harus diakui bahwa teknologi komunikasi sebagai salah produk dari modernisasi bermanfaat besar bagi terciptanya dialog dan demokratisasi budaya secara masal dan merata. Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini.
Kesenian bangsa Indonesia yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga tidak dapat lepas dari pengaruh kontak budaya ini. Sehingga untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat global namun tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis. Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan nasional. Berbagai kesenian tradisional yang sesungguhnya menjadi aset kekayaan kebudayaan nasional jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan turisme, politik dsb. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin dijauhi masyarakat. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup berat.
Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera. Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop. Untuk menghadapi hal-hal tersebut di atas ada beberapa alternatif untuk mengatasinya, yaitu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM ) bagi para seniman rakyat. Selain itu, mengembalikan peran aparat pemerintah sebagai pengayom dan pelindung, dan bukan sebaliknya justru menghancurkannya demi kekuasaan dan pembangunan yang berorientasi pada dana-dana proyek atau dana-dana untuk pembangunan dalam bidang ekonomi saja
PENUTUPAN
A.     Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat saya paparkan adalah, pergeseran kebudayaan di masyarakat telah nampak jelas terlihat baik itu yang bersifat individual maupun yang bersifat universal. Pergeseran kebudayaan yang begitu derastis tentunya dapat memberikan dampak yang begitu besar bagi kelangsungan hidup kita. Begitu banyak dampak positif yang ditimbulkan dari arus gelobalisasi di masyarakat, namun tidak sedikit pula dampak negatif yang di timbulkannya.
Perubahan nilai – nilai budaya masyarakat merupakan suatu hujud nyata dari pengaruh gelobalisasi. Perubahan pola hidup, cara berfikir, dan tingkat kehidupan masyarakat merupkan hasil dari peroses perubahan suatu kebudayaan di masyarakat. Apabila masyarakat dapat memanfaatkan perubahan tersebut dengan baik tentunya akan memberikan efek yang baik pula namun apabila sebaliknya, masyarakat tidak dapat mengerti dan memanfaatkan arus gelobalisasi tersebut maka bukan kemajuan yang akan dirasakan oleh masyarakat namun malah kemunduran kebudayaan yang akan di timbulkan.
B.     Saran
Saran yang dapat saya samapaikan, hendakanya kita harus dapat mengerti betul makna dari moderenisasi dan gelobalisasi. Karena apa, bila kita telah dapat memahami kedua hal tersebut tentunya kita akan dapat jadikan acuan dalam mengahadapi perkembangan zaman, Karena moderenisasi merupakan hujud dari gelobalisasi yang tidak dapat kita hindari keberadaanya di masyarakat.





DAFTAR PUSTAKA
Muhtarom. 1996. Reproduksi Ulama di Era Globalisasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Piotr Sztompka. 2010. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta : Prenada.
Elly M. Setiadi. 2009. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana.
Abdullah, Irwan. 2007. Kontruksi dan Reproduksi Kebudayaan : Pustaka Pelajar. Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
Sapardi Djoko Damono, Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
Fuad Hassan. “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia”. Dalam http://kongres.budpar.go.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan.htm, didownload 17/06/11.
Koenjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Adeney, Bernard T. 1995. Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius. Al-Hadar
Smith, “Syariah dan Tradisi Syi’ah Ternate”, dalam http://alhuda.or.id/rub_budaya.htm , didown load 17/06/11.
http://www.google=pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar